Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang kini telah mengembangkan pembuatan eco enzim yang terbuat dari sampah-sampah organik. Salah satu misi kebijakan manajemen RSUD Jombang adalah rumah sakit ramah lingkungan. Untuk mewujudkan misi ini tidak bisa sendiri. Perlu partisipasi aktif dan kerjasama semua elemen masyarakat, termasuk pengunjung rumah sakit.
Kita tahu sampah ini menjadi persoalan di mana-mana pun juga di RSUD Jombang dengan pengunjung yang ribuan setiap harinya, kemudian pasien yang juga cukup banyak, lalu kemudian
pokoknya cukup banyak orang yang setiap hari lalu lalang di sana, maka sudah bisa dipastikan bahwa sampahnya pun juga ngumpulnya cukup banyak begitu.
Lalu bagaimana pengelolaan sampah RSUD Jombang yang sampai dengan saat ini juga masih dilaksanakan termasuk juga inovasi yang dilakukan dalam hal pengelolahan limbah organik menjadi ekoenzim atau disingkat dengan Mbah Nik Jadi Cozyme gitu ya.
Disampaikan Wahyu Ratna Wulandari A.Ms.Kes, Sanitarian RSUD Jombang, bahwa “RSUD Kabupaten Jombang sekarang apa yang berkunjung ke rumah sakit itu kan banyak ya dari rawat inap, rawat jalan, karyawannya kan juga banyak ya. Rumah Sakit Jombang ini tipe B kependidikan. Jadi TT yang ada sekarang itu sekitar 473 TT (tempat tidur). Kemudian BOR (Bed Occupancy Red) atau hunian dari tempat tidur sendiri sudah bisa mencapai 65 sampai 75% atau bahkan lebih ya. Jadi kan banyak sekali ya belum yang kunjungan dari poli dan sebagainya,” ungkap Wahyu Retno Wulandari saat dialog interaktif di Radio FM Suara Jombang, Senin (19/05/2025).
Perbincangan yang di pandu Ninda Ahmad ini mengupas tuntas bagaimana pengelolaan limbah B3 yang dilakukan sesuai standar. Irawan menguraikan, limbah B3 diatur berdasarkan karakteristiknya. Untuk pemilahan limbah padat dibagi menjadi empat, yaitu limbah infeksius, limbah benda tajam & jarum, limbah kimia farmasi dan limbah sitotoksik. Sedangkan untuk limbah nin infeksius/limbah domestik dibagi menjadi dua, limbah organik dan limbah anorganik.
Nah, sambung Wahyu Retno Wulandari, sampah tentunya kita menghasilkan sampah setiap hari ya dari pengunjung tersebut. Tapi kan bersih semuanya, kelihatan bersih banget kok. Bersih kelihatan bersih. Tapi setiap aktivitas kan mesti menghasilkan sampah. Menghasilkan sampah. Iya. Tidak mungkin ada aktivitas tanpa sampah. Kalau kita lihat di rumah tangga begitu ada ada
aktivitas pasti ada sampah. Kemudian sampah yang di RSUD karena kita pelayanan kesehatan ada yang bersifat medis kemudian juga non medis.
“Di RSUD Jombang itu ada yang sifatnya infeksius, kemudian ada sifatnya yang limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). Untuk B3-nya sendiri itu masih dibagi-bagi lagi. Banyak sekali. Ada
farmasi kadaluarsa, ada bahan kimia kadaluarsa aki baterai bekas, kemudian kemasan produk farmasi, ada selat IPAL. Jadi IPAL kan diolah di sana ya, itu ada selatnya. itu termasuk B3 juga yang
harus kita olah ya. Kemudian kemasan bekas B3, minyak pelumas bekas juga lampu TL bekas. T lampu TL kan mengandung merkuri ya. Nah, itu biasanya menjadi bahan B3 yang harus dikelola
juga gitu,” terangnya.
Kemudian untuk jenis yang nonmedis atau domestik tadi ya itu ada yang anorganik sama organik, yang anorganik itu kayak plastik, kemudian logam dan sebagainya. Kemudian untuk yang organik itu kayak sayur, sisa buah dan sebagainya. Kemudian potongan pohon, rumput dan sebagainya itu harus kita kelola. Dan terutama itu yang yang paling susah itu pemisahan. Kalau di Rumah Sakit Jombang itu pemisahan. Jadi dari awal dari awal apa dihasilkan dari ruangan-ruangan tersebut kita harus mengelola dari pemisahannya.
“Pemisahannya harus dipisahkan betul memilah memilah sampah baik yang medis maupun non medis. Dan caranya bagaimana? Kita sudah berupaya dari rumah sakit itu menyediakan tempat sampah sesuai dengan jenisnya kayak yang medis ya. Yang medis itu ee kita ada di apa? Disediakan sampah yang warna kuning, tong warna kuning.
Kemudian dilapisi dengan kantong plastik yang warna kuning seperti itu. Kemudian yang LB3 juga, tong plastiknya warna kuning. Kemudian dilapisi dengan kantong plastik yang berwarna coklat. Hm. Seperti itu.
Dibedain. Dibedain. Kemudian dipasangi stiker-stiker. Jadi di apa? tutupnya itu dipasang stiker. Jenis apa sih yang bisa masuk di yang medis? Kemudian yang infeksius itu, kemudian yang LB3 itu jenisnya apa saja seperti itu. Jadi biar tidak tertukar. Soalnya apa? Untuk mempermudah nanti
pada waktu kita mengolah kan itu nanti ada kelanjutannya diolah seperti itu,” terangnya.
Selain berkomitmen mengelola limbah B3, menejemen RSUD Jombang juga melakukan penyehatan media lingkungan. Langkah ini sebagai quality control rumah sakit dengan melakukan uji laboratorium secara berkala setiap bulan untuk air bersih dan air RO, Serta 6 bulan sekali terhadap air minum, makanan maupun udara di lingkup RSUD Jombang.
Beragam upaya ini untuk memberikan kenyamanan pengunjung dan keluarga pasien guna mensupport kesembuhan pasien. Insya Allah sejauh ini menu makanan yang dihidangkan oleh tim gizi kepada pasien, selain enak rasanya dengan asupan gizi cukup, juga secara kualitas bakteriologis dipantau dengan baik.
“Sehingga sajian makanan yang diberikan sehat dan menyehatkan. Hal ini bisa mensupport pasien agar tidak lama-lama di rumah sakit. Diharapkan pasien segera sehat dan sembuh,” pungkasnya.